Sea Games tahun 2011 ini resmi dibuka kemarin. Sudah lama ingin menulis tentang Sea Games edisi 26 yang dihelat di negeriku tercinta, Indonesia. Dan kesempatan itu baru datang hari ini, sehari setelah acara pembukaan.
Acara pembukaan tadi malam terus terang sangat berarti sekali buatku. Entahlah, sejak beberapa tahun yang lalu, aku merasa inferior dibanding negara-negara tetangga. Mulai dari sisi ekonomi, social budaya, pariwisata, teknologi hingga olah raga.
Tapi tadi malam, Indonesia membuktikan bahwa mereka adalah negara yang besar. Sebuah pertunjukkan spektakuler tersaji di belahan barat Indonesia, tepatnya di Jakabaring Sport Center di kota Palembang, Sumatera Selatan. Permainan laser yang cantik, letupan kembang api yang megah serta drama kolosal yang sungguh tidak berhenti membuat berdecak kagum. Makin lengkap pula keindahan acara pembukaan ini, karena diselenggarakan bertepatan dengan tanggal cantik 11-11-11.
Acara spektakuler ini seperti menghapus nada miring seputar penyelenggaraan sea games yang nyaring terdengar sejak beberapa bulan silam. Masalah demi masalah menghampiri panitia mulai dari urusan Venue yang belum selesai, sarana transportasi dan akomodasi seperti wisma atlet yang hingga beberapa hari menjelang perhelatan masih belum siap hingga ancaman boikot yang disebabkan karena dana yang belum cair. Semua masalah ini nyaris membuat mayoritas rakyat Indonesia tidak yakin, apakah kita bisa menjadi tuan rumah acara multi event terbesar di Asia Tenggara ini.
Di luar masalah teknis, konon kabarnya ada beberapa protes dari negara-negara peserta yang merasa cabang-cabang olahraga andalannya dikurangi nomor perlombaannya ataupun di tiadakan. Dan malah diganti dengan cabang olahraga yang sebenarnya malah bukan merupakan cabor yang masuk dalam olimpiade demi menguntungkan perolehan medali tuan rumah Indonesia. Malaysia adalah salah satu negara yang cukup keras memprotes. Dan sebagai bentuk protes, pada perhelatan Sea Games kali ini, konon mereka hanya mengirimkan atlet kelas dua. Entahlah, apakah berita itu benar adanya atau hanya sekedar psywar. Ya, bagaimanapun ini adalah sebuah olahraga yang tidak bisa dilepaskan dari perang kata-kata ataupun adu gertak di media.
Terlepas dari permasalahan-permasalahan yang terjadi, kini Sea Games sudah resmi dibuka. Marilah kita semua berdoa agar Sea Games ini bisa berjalan lancar dan sukses. Selain lancar, semoga saja acara ini sanggup memikat wisatawan mancanegara untuk datang ke Palembang dan Jakarta untuk kemudian dilanjutkan ke daerah-daerah lain di Indonesia.
Saat ini hingga tanggal 22 November 2011 nanti, ratusan atlet Indonesia akan berjuang keras di medan perlombaan mereka masing-masing demi satu tujuan, mengharumkan nama Indonesia dan merebut kembali gelar Juara Umum Sea Games yang terakhir kita dapat 14 tahun yang lalu, tepatnya di Jakarta 1997. Dan gelar itu akan terasa lebih indah lagi, jika bisa disandingkan dengan medali emas dari cabang olahraga terpopuler di dunia, yang sudah 20 tahun lamanya kita tidak meraihnya, Sepak Bola.
“SPORT unites a nation-states’, olahraga menyatukan negara-bangsa. Salah satu judul lagu Presiden SBY yang menjadi official anthem SEA Games XXVI pun berjudul ‘United and Rising’ (‘Bersatu dan Bangkit’). Mestinya olahraga memang menyatukan dan membangkitkan, bukannya meretakkan, memilukan, dan menjadi mimpi buruk. Itulah yang seakan kini terjadi dalam persiapan perhelatan olahraga se-Asia Tenggara SEA Games, Jakarta-Palembang 11-22 November 2011.
Dapat dipastikan SEA Games akan berjalan meski dengan berbagai persoalan dan kendala. Cabang sepak bola misalnya, sudah dimulai 3 November lalu. Tak hanya persoalan teknis dan infrastruktur, namun juga momen, mengingat November ini musim hujan dan diperkirakan di Jakarta sendiri mengalami siklus banjir 5 tahunan.
Apa boleh dikata, mengutip idiom the show must go on, aral boleh melintang, kritik pun boleh bertubi-tubi. Menpora Andi Alifian Mallarangeng yang patut bertanggung-jawab atas perhelatan ini, sejak semula tidak menggubris masukan dari berbagai elemen masyarakat, termasuk dari anggota DPR Komisi X yang membidangi olahraga.
Mengapa perhelatan SEA Games ini perlu mendapat perhatian dan kritik? Mengingat atas berbagai persoalan yang ada, bagaimana pun bangsa ini menjadi tuan rumah yang akan kedatangan tamu wisman dari Asia Tenggara. Di Jakarta misalnya, proyek galian gorong-gorong yang mengakibatkan tanah merah menggunung di seputar kawasan Soedirman yang berdekatan dengan kompleks Stadion Gelora Bung Karno (GBK), tentu akan mengundang impresi buruk.
Belum lagi persoalan kemacetan, seperti di kawasan Soedirman, di mana sejumlah venue akan digelar di kompleks GBK, tentu juga menimbulkan kesan tidak sedap. Ini tentu akan menjadi catatan serta penilaian tersendiri bagi para wisman, diplomat, ofisial, ataupun atlet se-Asia Tenggara yang bertamu ke Jakarta.
Persoalan di Palembang
Persoalan di Jakarta berbeda dari di Palembang, mengingat SEA Games diadakan di dua kota. Sejumlah venue belum juga rampung 100%. Banyak pihak merasa prihatin ketika menyaksikan kondisi kawasan Jakabaring Sport Center melalui berita di televisi. Tempat pertandingan hingga kini masih berdebu, belum dilapis aspal. Sarana penunjang di venue cabang olahraga seperti panjat dinding, menembak, dayung, juga masih bermasalah.
Akibatnya, publik menilai bahwa, ada yang salah urus dari proyek tender dengan developer di Jakabaring. Dikabarkan pula, wisma atlet belum rampung secara keseluruhan. Bahkan ada sejumlah warga yang melaporkan pada pihak terkait, karena tanah mereka yang kini disulap menjadi Jakabaring Sport Center, kabarnya belum dilunasi Pemprov Sumsel. Ini juga harus menjadi catatan supaya tak menimbulkan kesan buruk terhadap pemda karena merampas apa yang seharusnya menjadi hak masyarakat setempat.
SEA Games kali ini menimbulkan kesan seakan-akan panitia pelaksana (INASOC) melakukan tindakan gerak cepat dan serbainstan, tanpa ada perhitungan dan persiapan matang. Jika dibandingkan misalnya, untuk menyelenggarakan Olimpiade London 2012 saja, pemerintah Inggris beserta stakeholder telah menyiapkan jauh-jauh hari. Begitu juga seperti penyelenggaraan World Cup Brasil 2014, persiapannya telah dilakukan jauh-jauh hari. Mestinya SEA Games pun demikian berkaca dari event olahraga besar semacam Olimpiade atau World Cup.
Sehubungan yang akan menanggung semua persoalan ini bukan cuma Menpora, INASOC, ataupun KONI melainkan bangsa ini bisa dipermalukan oleh bangsa-bangsa lain di kawasan Asia Tenggara sebagai dampak dari buruknya penyelenggaraan event besar seperti SEA Games. Terus terang, kita malu sebagai bangsa saat tamu pesta olahraga itu membanjiri Jakarta atau Palembang, apalagi Ibu Kota sebagai representasi dari Indonesia. Orang akan menilai, jika Jakarta saja semrawut, apalagi kota-kota lain yang bukan capital region
Contoh kasus lain adalah penginapan bagi para atlet. Tim rowing dan kano Indonesia merasa terganggu konsentrasinya karena masalah penginapan. Hingga hari keenam penyelenggaraan SEA Games XXVI/2011, tim rowing dan kano diminta keluar dari hotel tempat mereka menginap di Karawang.
Manajer Tim Dayung Indonesia, Budiman, ditemui disela-sela pertandingan kategori rowing di Cipule, Karawang, Rabu (16/11/2011), para atlet merasa sangat terganggu dengan hal ini. “Seharusnya selama penyelenggaraan SEA Games, hotel atlet enggak boleh diganggu gugat,” katanya.
Dia mengatakan, sebanyak 97 atlet menginap d Hotel Grand Zuri, Cikarang, Karawang, Jawa Barat. Budiman mengatakan, bila kondisi tidak segera diselesaikan, konsentrasi atlet dikhawatirkan terganggu. Belum lagi kasus-kasu lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar